Skip to content
Mei 19, 2011 / sabdosuryo

” THE CULTURES AND PHYLOSOPY OF JAVANESE..”

 ” Semar Bodronoyo or Bathara Ismoyo…….., he is        Dewa from Javanese………..”

              

    Semar dalam khasanah pewayangan adalah Romo dari para punokawan…..dan juga merupakan pemomong bagi Satria Pandawa Arjuna….

Dia adalah merupakan wujud dari pengejawantahan utusan Gusti yang mempunyai tugas menjaga…..melindungi…..mendidik dan memberikan ajaran piwulang budi pekerti kepada seluruh masyarakat jawa dan para Raja-raja Jawa…..

  Di era Browijoyo V jaman Majapahit Semar menitis pada penasehat Raja yaitu Sabdo Palon……, seperti yang telah disebutkan dalam perjanjiannya bahwa dia akan kembali hadir setelah 500 tahun…untuk kembali mengumandangkan piwulang ajaran budi pekerti kepada rakyat jawa……, suatu ajaran yang sekarang sudah terlupakan oleh bangsa ini….

 Kembalinya Semar adalah untuk mengingatkan manusia tentang tujuan hidup…dan kodrat hidup sebagai manusia yang pada dasarnya adalah bertugas menjaga keseimbangan dan keselarasan alam dan seluruh isinya………”. 

     ” Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan mardika…. “, artinya “ merdekanya jiwa dan sukma ”, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa…..

”  Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa ora kebanda ing kadonyan…, ora samar marang bisane sirna durka murkamu )….”,  artinya,  “ dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup …..”.

Bocah Bajang nggiring angin

anawu banyu segara

ngon-ingone kebo dhungkul

sa sisih sapi gumarang

 Batara Semar atau Batara Ismaya, yang hidup di alam Sunyaruri…., sering turun ke dunia dan manitis di dalam diri Janggan Semarasanta…., seorang abdi dari Pertapaan Saptaarga…..,  Mengingat bahwa bersatunya antara Batara Ismaya dan Janggan Semarasanta yang kemudian populer dengan nama Semar merupakan penyelenggaraan Gusti, maka munculnya tokoh Semar diterjemahkan sebagai kehadiran Gusti dalam kehidupan nyata dengan cara yang tersamar, penuh misteri…..

” Jika dipahami bahwa hidup merupakan anugerah dari Sang Maha Hidup, maka Semar merupakan anugerah Sang Maha Hidup yang hidup dalam kehidupan nyata….. “. 

” Dan jika hidup itu dijaga, dipelihara dan dicintai maka hipup tersebut akan berkembang mencapai puncak dan menyatu kepada Sang Sumber Hidup, manunggaling kawula lan Gusti…”. 

” Kertarajasa Jayawardana is the King of Majapahit Kingdom of Java…”

” 

He is the great King of Majapahit…..

Beliau adalah Raja pendiri Kerajaan Majapahit…setelah era Kerajaan Singhasari dari pendahulunya….

 Sebelum berdirinya Majapahit, Singhasari telah menjadi kerajaan paling kuat di Jawa. Hal ini menjadi perhatian Kubilai Khan, penguasaDinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang bernama Meng Chi ke Singhasari yang menuntut upetiKertanagara, penguasa kerajaan Singhasari yang terakhir menolak untuk membayar upeti dan mempermalukan utusan tersebut dengan merusak wajahnya dan memotong telinganya. Kublai Khan marah dan lalu memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293.

Ketika itu, Jayakatwang, adipati Kediri, sudah membunuh Kertanagara. Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya, menantu Kertanegara, yang datang menyerahkan diri. Raden Wijaya kemudian diberi hutan Tarik. Ia membuka hutan itu dan membangun desa baru.     Desa itu dinamai Majapahit, yang namanya diambil dari buah maja, dan rasa “pahit” dari buah tersebut. Ketika pasukan Mongol tiba, Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongol untuk bertempur melawan Jayakatwang. Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya secara kalang-kabut karena mereka berada di teritori asing. Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir mereka untuk menangkap angin muson agar dapat pulang, atau mereka harus terpaksa menunggu enam bulan lagi di pulau yang asing.

Tanggal pasti yang digunakan sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit adalah hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yaitu tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 saka yang bertepatan dengan tanggal 10 November 1293. Ia dinobatkan dengan nama resmi Kertarajasa Jayawardhana. Kerajaan ini menghadapi masalah. Beberapa orang tepercaya Kertarajasa, termasuk RanggalaweSora, dan Nambi memberontak melawannya, meskipun pemberontakan tersebut tidak berhasil. Slamet Muljana menduga bahwa mahapatih Halayudha lah yang melakukan konspirasi untuk menjatuhkan semua orang tepercaya raja, agar ia dapat mencapai posisi tertinggi dalam pemerintahan. Namun setelah kematian pemberontak terakhir (Kuti), Halayudha ditangkap dan dipenjara, dan lalu dihukum mati. Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309.

 Berikut silsilah keturunan Kertarajasa Jayawardana / Raden Wijaya yang menjadi Raja-raja Majapahit…… 

Nama Raja

Gelar

Tahun

Raden Wijaya Kertarajasa Jayawardhana 1293 – 1309
Kalagamet Sri Jayanagara 1309 – 1328
Sri Gitarja Tribhuwana Wijayatunggadewi 1328 – 1350
Hayam Wuruk Sri Rajasanagara 1350 – 1389
Wikramawardhana 1389 – 1429
Suhita 1429 – 1447
Kertawijaya Brawijaya I 1447 – 1451
Rajasawardhana Brawijaya II 1451 – 1453
Purwawisesa atau Girishawardhana Brawijaya III 1456 – 1466
Bhre Pandansalas, atauSuraprabhawa Brawijaya IV 1466 – 1468
Bhre Kertabumi Brawijaya V 1468 – 1478
Girindrawardhana Brawijaya VI 1478 – 1498
Hudhara Brawijaya VII 14981518[36]

” The name is Dewi Parwati as Queen Majapahit…and Hayam Wuruk  Mother…..”

Arca Dewi Parwati….sebagai perwujudan dari Tribuwanatunggadewi…, Ratu Kerajaan Majapahit…dan ibunda dari Prabu Hayam Wuruk…

Dimasa Prabu Hayam Wuruk lah Majapahit menjadi Kerajaan yang besar dengan menguasai wilayah Asia Tenggara dengan dibantu Mahapatih Gajahmada…..


” Symbol of Majapahit Kingdom……… Surya Majapahit or The Sun of Majapahit…”.


This Sun Symbol was the royal emblem of Majapahit…….

Surya Majapahit….adalah Simbol dari Kerajaan Majapahit…yang artinya..,” Surya Matahari yang selalu menyinari unsur hidup dan kehidupan….untuk tercapainya suatu keselarasan…dan keseimbangan Alam beserta seluruh isinya…..”

Suatu Simbol Negara yang mengandung makna yang sangat dalam……

” Matahari merupakan bagian dari Sumber Cahaya dan Kehidupan…..filosofinya adalah bahwa manusia sebagai wakil dari Tuhan di Bumi ini harus benar-benar menghayati tentang tujuan hidup…dan kodrat hidupnya….., tentang sebuah harmoni….dengan alam semesta……….dan seluruh kehidupan Jagad Raya……..”. 

  ” This is Mahapatih Gajahmada Face Terakota of Majapahit Kingdom……”

     ” Mahapatih Gajahmada….., menjadi Patih dimasa Prabu Hayam Wuruk…, mempunyai cit-cita yang tinggi untuk menyatukan Nusantara….., dengan kegigihan dan kecerdasannya Sang Mahapatih berhasil mewujudkan cita-citanya tersebut…dengan sumpahnya yang terkenal….Sumpah Palapa…, tidak hanya Nusantara yang disatukan oleh Majapahit tetapi hingga seluruh Asia Tenggara….”

  Tidak diketahui asal-usul dan perginya Gajahmada setelah berakhirnya masa Prabu Hayam Wuruk…., tetapi peninggalan bekas tempat bertapanya sampai sekarang masih ada di dataran tinggi…di atas tebing di daerah Mojokerto Jawa Timur…

Tebing tersebut lurus..dan mengalir air terjun dengan telaga dibawahnya…, kira-kira 20 meter dari telaga…terdapat goa…dibibir tebing, dan goa tersebut diselimuti / ditutupi oleh tabir air terjun yang mengalir kebawah…, seperti tirai air…., nah disitulah Sang Mahapatih bertapa memohon petunjuk dan mendekatkan diri dengan Hyang Widhi…..

” Bisa kita bayangkan goa dibibir tebing yg sangat curam dan licin dengan ketinggian 20 meter dan dibawahnya terdapat telaga yang dalam…, mustahil orang biasa bisa sampai ke goa tersebut…,yang akses jalan masuk ke goa jelas tidak ada dan sangat mustahil untuk bisa sampai ke goa tersebut…

     Hanya Sang Mahapatih Gajahmada seorang, yang sakti dan berjiwa ksatria yang bisa bertapa dan mengendapkan seluruh Qalbunya….,dengan cita-cita yang besar dan luhur demi negara dan tumpah darahnya …….”.

 ” The Great Borobudur Temple of Java……”

 Sebuah Maha Karya dari Dinasti Syailendra yang beragama Budha dengan Sang arsiteknya Rakai Pikatan yang beragama Hindhu Jawa. Rakai Pikatan masih kerabat dari Dinasti Syailendra…, tetapi karena perbedaan keyakinan sehingga antara Dinasti Syailendra dengan Dinasti Rakai Pikatan terjadi suatu perselisihan…

   Saat itulah Rakai Pikatan tampil kedepan untuk menyatukan ke Dua Dinasti yang masih keluarga tersebut. Setelah menciptakan Maha Karya Candi Borobudur yang bernuansa Budha, kemudian dilanjutkan dengan menciptakan Maha Karya Candi Prambanan yang bernuansa Hindhu Jawa…, maka Rakai Pikatanlah yang akhirnya mempersatukan kembali keDua Dinasti Besar tersebut…bersatu kembali dalam perdamaian dan menjadi Suatu Kekuatan yang sangat besar bagi ke dua Dinasti Besar tersebut……………………..

” Sebuah pembelajaran hidup yang sangat mengagumkan bagi kita generasi penerus bangsa….., bahwa Perbedaan pada dasarnya adalah suatu anugrah…., karena dengan Perbedaan itu menjadikan pendewasaan dalam berpikir..,bersikap dan berperilaku…..”.

 ” The Great Prambanan Hindhu Temple of Java….”


Sebuah Maha Karya dari Sang Rakai Pikatan….pemersatu Dinasti Syailendra dan Dinasti Rakai Pikatan…..

Sungguh sangat mengagumkan Maha Karya dari seorang Maestro Sang  Rakai……

Candi Prambanan dirancang oleh Rakai Pikatan tahan terhadap Gempa…, karena candi-candi seribu disekelilingnnya itu sebenarnya berfungsi sebagai peredam anti gempa.., sehingga kalau terjadi gempa maka bangunan candi induknya tidak akan roboh.., tetapi sayang sekali…, candi-candi di sekelilingnnya sekarang berserakan entah kemana….dan sudah tidak utuh lagi…., Terbukti bahwa jaman Rakai Pikatan sudah mengalami peradaban tinggi dan sangat maju….., belum tentu arsitek jaman sekarang bisa membuat Candi sekelas Borobudur dan Prambanan…., Kita akui Sebuah Peradaban Maju yang melebihi jamannya di masa Rakai Pikatan…….


” The Puppet Wayang and Performer of Javanese….”Pagelaran wayang kulit…, menceritakan tentang falsafah ajaran hidup  yang tinggi.., tentang caracter dan watak dari manusia..dari yang baik maupun buruk…diiringi dengan alunan gending jawa dan tembang-tembang jawa…..serta sabetan wayang dari Sang dalang yang semakin membuat hidup jalan cerita lakon wayang………, Ki Narto Sabdo adalah Dalang Termasyur tahun 70- 90 an….

  ” Yudistira is the old brother of Pandawa……..”

     Yudistira adalah putra dari ibu Kuntitalibroto….dengan ayah seorang Bathara / Dewa…, Yudistira seorang ksatria Pandawa yang mempunyai watak terpuji.., jujur…, halus budi bahasanya…sopan santun…serta arif dan bijaksana…. 

            Konsekwen dalam ucapan dan perbuatan…..,hal tersebut dibuktikannya sewaktu Pandawa kehilangan kerajaannya oleh kurawa karena dipertaruhkan dalam meja judi….dan yudistira dengan jantan mengakui kekalahannya walaupun itu semua adalah tipu daya dari Duryudana..untuk merebut Hastinapura dari tangan Pandawa…… Dan Para Pandawa akhirnya terbuang dari kerajaannya dan hidup terlunta-lunta di hutan……..

Pun juga sewaktu para pandawa melakukan perjalanan pendakian Gunung menuju ke puncak Keabadian yang Hakiki.., Hanya Yudistira yang langsung naik ke Nirwana tanpa melalui proses kematian…

 Para Dewa menyambutnya dengan suka cita tetapi para Dewa menolak masuk ke Nirwana anjing yang yang selalu bersamanya…., Yudistira pun langsung menolak untuk masuk ke Nirwana jika anjingnya tidak diijinkan untuk masuk bersamanya….karena anjing itu yang setia menemaninya disaat dia dalam penderitaan panjang dalam pendakian menuju Puncak Keabadian…..

 ” Suatu sifat watak Satrio yang dimiliki oleh Yudistira…..yaitu sifat welas asih tidak hanya dengan sesama manusia tetapi juga dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan dan tidak memandang sesuatu hanya dari luarnya saja…..”

 ” The name is Werkudoro.. or Bimo…or Brotoseno…….,he is the great Pandawa knight…”

      Werkudoro dilahirkan dari ibu Kuntitalibroto dengan Dewa Bayu…..

   Dia terlahir dalam posisi terbungkus kulit ari tebal dan sangat kuat….., berbagai macam pusaka ampuh tidak berhasil untuk merobek kulit bungkus arinya…., sehingga suatu saat datanglah seekor gajah Seno…yang kemudian berhasil merobek bungkus kulit arinya tetapi gajah itu mati setelah berhasil membuka bungkus kulit ari Werkudoro…, dan seluruh kekuatan Gajah Seno itu manjing dan menyatu kedalam raga Werkudoro….

    Werkudoro mempunyai sifat pemberani dan tidak kenal takut dalam membela kebenaran…, selalu menghormati Gurunya yaitu Drona walau Drona berusaha untuk memperdayakannya dengan menyuruh Werkudoro untuk mencari, ” Gung Susuhing Angin “, yang pada dasarnya hal tersebut hanya alasan dari Drona untuk memperdayai Werkudoro. 

Sang Werkudoro tidak pernah menyangka dan menganggap Sang Guru berusaha untuk memperdayainya. Dia pun berangkat untuk mencari, ” Gung Susuhing Angin…”, hingga sampai di hutan yang lebat dan terjadi pertempuran dengan Buto Raksasa penguasa hutan tersebut…

 Hingga pada akhirnya Werkudoro memenangkan pertempuran tersebut…dan ternyata Buto tersebut adalah penjelmaan Bathara Bayu ayahnya yang memang sedang menguji Sang Brotoseno…

Dan akhirnya sampailah dia pada pertemuan tentang Kesejatian Hidup…yaitu bertemunya dia dengan Dewa Ruci di tengah laut…..

” Dewa Ruci sebenarnya adalah suatu gambaran dari kisah perjalanan spiritual Sang Werkudoro di dalam pencarian sejatine ilmu….., Dewa Ruci adalah wujud sukmo sejati Sang Werkudoro di dalam jagad gedenya….dan mengenal tentang asal-usul jati diri…..kodrat diri…..hakekat hidup….dan hakekat Sejatine Sangkan Paraning Dumadi…., mengenal dan dikenal…..asih dan mengasihi…., menyembah dan disembah……manunggal dalam kesejatian diri dengan Sang penguasa Hidup….”.

 ” The Great Arcer of Pandawa………., his name is Arjuna…”

     Seorang ksatria yang tampan rupawan….dan mempunyai keahlian memanah yang tiada duanya didunia ini…., hanya Karno lah ( saudaranya dari kubu Kurawa yang bisa menandinginya…).

     Arjuna terlahir dari ibu Kuntitalibroto dengan ayahnya Dewa Suryo…, Arjuna sangat tekun dan teguh dalam mengejar dan meraih cita-citanya…, dibuktikannya denga cita-citanya dia untuk meraih, ”  Wahyu Cokroningrat “, dengan bersamadi dan bertapa di gunung Selogiri. 

       Karena kesungguhannya dalam bertapa dan memohon kepada Hyang Widhi maka dia diberi kesempatan oleh para Dewa untuk naik secara langsung ke khayangan…..dan merasakan hidup di khayangan untuk senemtara waktu.., dan bergelar, ” Begawan Ciptoning..”. Hingga akhirnya Bathara Wisnu mengabulkan permintaannya dan memberikan ,” Wahyu Cokroningrat”, kepadanya…....

Namun sesungguhnya untuk siapa Wahyu itu…..???, Wahyu Cokroningrat tersebut ternyata bukan untuk dirinya saat sekarang tetapi untuk cucu keturunannya yaitu Paripurno….anak dari Parikesit…., yang kemudian Wahyu Cokroningrat tersebut secara turun temurun jatuh kepada keturunannya yaitu Prabu Joyoboyo…..Prabu Airlangga…….Prabu Anglingdarmo………Prabu Kertarajasa Jayawardana/ Raden Wijaya……hingga sampai kepada trah Mataram yaitu Ki Ageng Pemanahan…., Panembahan Senopati/ Danang Sutowijoyo……..hingga Sultan Agung Hanyokro Kusumo………, dan setelah itu Wahyu Cokroningrat tersebut hilang………untuk pada suatu saat nanti jika masa itu sudah datang…, akan kembali kepada trah Mataram yang asli…keturunan dari Panembahan Senopati…..”.

   ” Twin brothers of Pandawa……, Nakula and Sadewa…                                                                   

     Nakula dan Sadewa adalah dua saudara kembar putra dari ibu Dewi Madrim.., istri muda dari Pandu Dewanata….

Mempunyai watak Ksatria….., jujur….., ramah dan berani……

Hanya dua bersaudara ini yang ayahnya bukan dari Golongan Bathara / Dewa…


        ” This is a hand weapon of Kingdoms Java………, the name is , ” Keris..”.

                                           Look at this……….!,

                                 amazy….!, so beautyful art….

                                           

 ” This is The Royal Mangkunegaran of Java……and  Prince Samber Nyowo as a King at first…”

Penguasa Mangkunegaran secara resmi bergelar , ” Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara Senopati Ing Ayudha Sudibyaningprang yang ke I, II, III…”. dan seterusnya dan secara fleksibel disebut dengan Mangkunegara dengan tambahan angka Romawi di belakangnya yang menunjukan pada yang sedang bertahta.

     Gelar dari raja Mangkunegaran ini benar benar murni Jawa tanpa tambahan kata kata asing semisal , ” Panatagama”. Keaslian Jawa dalam figur Mangkunegaran ini yang oleh beberapa penulis asing dinyatakan sebagai takdir. Mangkunegaran ditakdirkan berdiri untuk mengembalikan segala sesuatu dari Jawa yang hilang.

     Selewat peperangan yang berlarut larut sampai dilalui nya Perjanjian Salatiga 17 Maret 1757, Mangkunegaran menjadi kekuatan penyeimbang yang masih selalu menampakan kegarangannya dalam perlawanannya terhadap penjajah… 

     Kedudukan penguasa Mangkunegaran adalah Raja Muda dan ini yang oleh pendahulunya diperjuangkan untuk menuju kemandiriannya tanpa mau didikte. Mangkunegaran tidak segan segan melakukan ketegasan sikap dalam menghadapi kekuasaan lain yang merongrong wibawa dan eksistensinya….

     Para Raja yang bertahta di Mangkunegaran dari setiap generasi tampil dengan cakap dan lihay untuk kerajaannya karena pada hakikatnya regenerasi di kerajaan ini betul betul dipersiapkan. Seorang putra mahkota yang bakal menjadi Mangkunegara berikutnya sejak remaja selalu disiapkan dengan memberikan beban tanggung jawab secara langsung dan berjenjang. Gelar, ”  Pangeran Prangwadana”, selalu menyertai bagi putra mahkota kerajaan.

Sejak tahun 1757 berturut turut yang bertahta di Istana Mangkunegaran adalah;

1.Mangkunegara I (1757-1795)
2.Mangkunegara II (1796-1835)
3.Mangkunegara III (1835-1853)
4.Mangkunegara IV (1853-1881)
5.Mangkunegara V (1881-1896)
6.Mangkunegara VI (1896-1916)
7.Mangkunegara VII (1916-1944)
8.Mangkunegara VIII (1944-1987)
9.Mangkunegara IX (1987-sekarang

                             ” The Great King Of  Mataram… Sultan Agung Hanyokro Kusumo…”

     ” Semasa pemerintahannya beliau….,  Mataram mengalami puncak kejayaannya…”.

     Dilahirkan dengan nama kecil Raden Mas Rangsang…., seorang Raja dan  priyayi bangsawan yang sangat mencintai tanah tumpah darahnya,,dan sangat anti dengan penjajah…..

     Karya besar beliau adalah Kalender Penanggalan Jawa….., dan Karya Sastra….seperti Serat Niti Projo yang isinya mengenai tugas dan kewajiban serta adab para aparatur negara di dalam menjalankan tugasnya sebagai punggowo Kraton…..

     Mataram pada masa itu sangat disegani oleh kompeni….karena kwibawaan dan ketegasan dari Sultan Agung dan sikap non kooperatif terhadap penjajah…., dengan melakukan penyerangan secara besar-besaran di markas Kompeni di Batavia….walaupun pada akhirnya kalah karena dikhianati oleh Tumenggung Bahurekso…senopati perangnya…, yang akhikrnya senopatinya tersebut dihukum mati oleh Sultan Agung beserta semua pasukan pengikut Bahurekso…

    Mangkat pada usia 55th dan di makamkan di pemakaman Raja Jawa di Imogiri yogyakarta….

                                                     ” Suryo Radityo Pujoningrat “

              Happyness…….Gloryous……Strengthness….       

                   

                                May the peace and mercy of God be upon us………tanks……….

                                                                 Jayalah Indonesiaku………….!

                                                                           hayyu…..rahayu………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: